Rusunami, Hunian untuk Rakyat

Nirwono Joga
Momentum pembangunan rusunami mendapat sambutan positif dari pemerintah, pengembang (besar) dan masyarakat menengah bawah. Bila rencana 1.000 menara rusunami ditargetkan selesai dibangun pada tahun 2011, maka Perum Perumnas dan pengembang dikejar target membangun 250 menara setiap tahun.
Pembangunan rusunami merupakan salah satu jawaban logis terhadap masalah pemenuhan kebutuhan papan masyarakat menengah bawah di tengah keterbatasan lahan kota, masalah degradasi kualitas lingkungan, transportasi publik, kemacetan lalu lintas, lingkungan hidup yang sehat dan mengurangi kesenjangan sosial ekonomi. Besar harapan rakyat memperoleh rumah hunian yang lumayan pantas di pusat kota.
Ramah Lingkungan
Permasalahan pembangunan perumahan adalah bagaimana mengatasi masalah keterbatasan lahan kota (efisiensi dan optimalisasi lahan), hemat energi (pengembangan energi alternatif), bahan bangunan murah berkualitas dan biaya terjangkau, kelestarian lingkungan, serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat menengah bawah.
Pengembangan rusunami dalam konsep kawasan terpadu (compact development) akan mendorong pertumbuhan kegiatan yang beragam dan terpadu, menghemat pengadaan sarana dan prasarana, kemudahan aksesibilitas dan transportasi publik sehingga mereduksi utilitas dan infrastruktur, kerangka perencanaan yang lentur dan luas, serta menjadi katalis bagi interaksi sosial budaya.
Ini merupakan terobosan cerdas dalam mengatasi keterbatasan lahan kota, memangkas besar waktu, biaya, dan tenaga yang terbuang akibat kemacetan lalulintas, menawarkan konsentrasi penduduk di satu kawasan dengan kepadatan lebih tinggi, mengelola pertumbuhan dan perubahan, serta mendapatkan lingkungan hijau bebas polusi dan banjir di pusat kota. Kawasan dilengkapi fasilitas hunian vertikal (rusunami), pendidikan (taman
kanak-kanak - perguruan tinggi), perkantoran, kesehatan (puskesmas, rumah sakit), perbelanjaan (pasar, hipermarket), ibadah (masjid, gereja), taman bermain dan lapangan olahraga. Penghuni tinggal berjalan kaki atau bersepeda dengan aman, mudah, dan murah ke tempat tujuan.
Pembangunan rusunami ramah lingkungan dapat mulai dilakukan di lokasi-lokasi rawan bencana banjir dan kebakaran, serta perkampungan padat penduduk, sebagai bagian program perbaikan kampung. Kawasan rawan bencana direvitalisasi dengan membangun rusunami dan mendorong masyarakat untuk secara sukarela berpindah ke rusunami. Kawasan menyediakan ruang-ruang terbuka hijau baru di antara menara yang berfungsi sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota berupa kebun sayuran atau apotik hidup, lapangan olahraga, taman bermain anak, dan ruang evakuasi bencana.
Rencana pemerintah untuk mengembalikan fungsi ruang terbuka hijau kota yang berdampak pada penggusuran kaum marjinal yang bermukim di jalur hijau bantaran kali, tepi rel kereta api, kolong jembatan layang, hingga tepian situ seharusnya merupakan momentum tepat untuk mengajak masyarakat menengah bawah beralih secara sukarela ke rusunami. Sinkronisasi dan koordinasi perencanaan dan pembangunan rusunami sangat diperlukan. Sebelum terlambat mereka berpindah kembali mengokupasi ruang hijau di lain tempat.
UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung mendorong pengembangan rusunami berarsitektur lokal yang lebih ramah lingkungan dan selaras dengan lingkungan asal. Bangunan bercirikan identitas dan keragaman budaya Indonesia. Desain bangunan hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan. Atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap dan dipasangi panel sel surya.
Rekayasa Sosial Budaya
Jika pembangunan rusun sudah menjadi kebiasaan masyarakat menengah bawah, maka target seribu rusun akan lebih mudah dicapai. Di samping itu, pemerintah perlu mempersiapkan rekayasa sosial budaya, karena pembangunan rusunami membawa konsekuensi terhadap perubahan tata ruang kota, lingkungan hidup, dan (gaya hidup) sosial budaya masyarakat secara signifikan.
Bayangkan, jika satu menara rata-rata tersedia 400 unit dan setiap unit dihuni 4 orang (bapak, ibu, 2 anak, tanpa pembantu), maka di setiap menara dihuni 1.600 orang. Jika dalam satu kawasan dibangun 10 menara, maka suatu kawasan akan dihuni 16.000 orang. Jumlah penghuni rusunami yang cukup besar dalam satu bangunan akan membawa dampak perubahan gaya hidup dari hunian horisontal (landed housing) ke hunian vertikal (vertical housing).
Para pakar psikologi sosial kota, perencana kota, dan perancang bangunan sepakat, perubahan total pola hidup masyarakat menengah ke bawah jika tidak ditangani dengan hati-hati dapat memicu masalah sosial dan kegagalan arsitektur di kemudian hari. Jika budaya hidup di bawah dibawa ke atas, urusan sepele bisa runyam menjadi masalah besar.
Pemerintah dapat mengintruksikan instansi terkait untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat menengah ke bawah sebagai sasaran calon penghuni rusunami. Pemerintah harus melakukan rekayasa sosial budaya dalam membantu periode transformasi kehidupan dari di tanah ke atas. Banyak hal perilaku kehidupan di tanah yang tidak selaras dengan kehidupan ke atas dan harus ditinggalkan, serta mengajarkan etika dan norma baru dalam kehidupan bertetangga dalam hunian vertikal. Calon penghuni harus diperkenalkan berbagai sosial budaya baru.
Penggunaan sarana publik bersama-sama dan bertanggung jawab, seperti pemakaian lift dan mesin cuci bersama. Penggunaan air secara bijak melalui sikap pengurangan pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur-ulang buangan air bersih (recycle) dan pengisian kembali air tanah (recharge) dengan membuat sumur resapan air (1x1x2m) dan/atau lubang resapan biopori (10cmx1m).
Kita sudah harus mulai mengembangkan sistem pengolahan air limbah bersih yang mendaur-ulang air buangan sehari-hari (cuci tangan, piring, kendaraan, bersuci diri) maupun air limbah (kamar mandi) yang dapat digunakan kembali untuk mencuci kendaraan, membilas kloset, dan menyirami kebun, taman, atau lapangan olahraga.
Cara memperlakukan sampah juga harus diubah, dengan prinsip 3R (reuse, reduce, recycle). Rusunami dikembangkan menjadi contoh kawasan zero waste. Sampah organik didaur-ulang menjadi pupuk kompos untuk kebun sayuran warga. Sampah anorganik (kertas, plastik, botol gelas) diolah menjadi kerajinan tangan oleh warga untuk dijual ke pasaran.
Harap diingat, tidak ada proses yang instan. Housing Development Board (HDB) Singapura melakukan program sosialisasi dan edukasi rusun selama 25 tahun. Pemerintah kota Ho Chi Minh, Vietnam sudah melakukan sejak 10 tahun terakhir dengan sasaran kaum lajang dan pasangan muda. Pemerintah Belanda bekerja sama dengan raksasa industri Phillips dan IKEA menciptakan produk-produk rumah tangga (peralatan elektronik, perabotan) serba praktis untuk membantu merekayasa sosial budaya secara cepat saat transformasi masyarakat ke rusun di tahun 1960-1970-an.
Kelak kesan lansekap kota yang sumpek, macet, berisik, polusif, dan kumuh perlahan dapat diubah dengan menampilkan kawasan rusunami terpadu ramah lingkungan yang hijau asri. Peningkatan kualitas kehidupan segenap lapisan warga terwujud, sehingga warga dapat hidup layak, terpenuhi kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan), pekerjaan, pendidikan, tersedia ruang publik, dan jaminan kesehatan dasar bebas dari ancaman penyakit dan bencana lingkungan.
Pemerintah juga telah menegaskan dana dalam negeri cukup, kontraktor ada, pengembang tersedia, peraturan siap, kemudahan perizinan, dispensasi dan insentif pajak, bahkan peminat masyarakat menengah bawah cukup banyak, lalu mesti tunggu apa lagi?!
Ketua Kelompok Studi Arsitektur Lansekap Indonesia (KeSALI)
http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Opini&rbrk=&id=43892&d...

